Header Ad Banner

ads

Rabu, 13 Juni 2012

Ritual Mesum di Gunung Kemukus Sragen Jawa Tengah

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.
»»  read more

Cerita Dewasa: Bercinta dengan Ibu dan Anak Tetanggaku

Didalam cerita pengalaman saya yang pertama yang saya beri judul "Masa kecil saya di Palembang", saya menceritakan bagaimana saya diperkenalkan kepada kenikmatan senggama pada waktu saya masih berumur 13 tahun oleh Ayu, seorang wanita tetangga kami yang telah berumur jauh lebih tua. Saya dibesarkan didalam keluarga yang sangat taat dalam agama. Saya sebelumnya belum pernah terekspos terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Pengetahuan saya mengenai hal-hal persetubuhan hanyalah sebatas apa yang saya baca didalam cerita-cerita seks porno ketikan yang beredar di sekolah ketika saya duduk di bangku SMP.

Pada masa itu belum banyak kesempatan bagi anak lelaki seperti saya walaupun melihat tubuh wanita bugil sekalipun. Anak-anak lelaki masa ini mungkin susah membayangkan bahwa anak seperti saya cukup melihat gambar-gambar di buku mode-blad punya kakak saya seperti Lana Lobell, dimana terdapat gambar-gambar bintang film seperti Ginger Roberts, Jayne Mansfield, yang memperagakan pakaian dalam, ini saja sudah cukup membuat kita terangsang dan melakukan masturbasi beberapa kali.

Bisalah dibayangkan bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu saya ketika diberi kesempatan untuk secara nyata bukan saja hanya bisa melihat tubuh bugil wanita seperti Ayu, tetapi bisa mengalami kenikmatan bersanggama dengan wanita sungguhan, tanpa memperdulikan apakah wanita itu jauh lebih tua. Dengan hanya memandang tubuh Ayu yang begitu mulus dan putih saja sucah cukup sebetulnya untuk menjadi bahan imajinasi saya untuk bermasturbasi, apalagi dengan secara nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan mulusnya tubuhnya. Apalagi betul-betul melihat kemaluannya yang mulus tanpa jembut. Bisa mencium dan mengendus bau kemaluannya yang begitu menggairahkan yang kadang-kadang masih berbau sedikit amis kencing perempuan dan yang paling hebat lagi buat saya adalah bisanya saya menjilat dan mengemut kemaluannya dan kelentitnya yang seharusnyalah masih merupakan buah larangan yang penuh rahasia buat saya.

Mungkin pengalaman dini inilah yang membuat saya menjadi sangat menikmati apa yang disebut cunnilingus, atau mempermainkan kemaluan wanita dengan mulut. Sampai sekarangpun saya sangat menikmati mempermainkan kemaluan wanita, mulai dari memandang, lalu mencium aroma khasnya, lalu mempermainkan dan menggigit bibir luarnya (labia majora), lalu melumati bagian dalamnya dengan lidah saya, lalu mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-minta ampun kewalahan. Yang terakhir barulah saya memasukkan batang kemaluan saya kedalam liang sanggamanya yang sudah banjir.

Setelah kesempatan saya dan Ayu untuk bermain cinta (saya tidak tahu apakah itu bisa disebut bermain cinta) yang pertama kali itu, maka kami menjadi semakin berani dan Ayu dengan bebasnya akan datang kerumah saya hampir setiap hari, paling sedikit 3 kali seminggu. Apabila dia datang, dia akan langsung masuk kedalam kamar tidur saya, dan tidak lama kemudian sayapun segera menyusul.

Biasanya dia selalu mengenakan daster yang longgar yang bisa ditanggalkan dengan sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui kepalanya, dan biasanya dia duduk dipinggiran tempat tidur saya. Saya biasanya langsung menerkam payudaranya yang sudah agak kendor tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya dilingkari bundaran yang kemerah-merahan dan pentilnya sendiri agak besar menurut penilaian saya. Ayu sangat suka apabila saya mengemut pentil susunya yang menjadi tegang dan memerah, dan bisa dipastikan bahwa kemaluannya segera menjadi becek apabila saya sudah mulai ngenyot-ngenyot pentilnya.

Mungkin saking tegangnya saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang, pada permulaannya kami mulai bersanggama, saya sangat cepat sekali mencapai klimaks. Untunglah Ayu selalu menyuruh saya untuk menjilat-jilat dan menyedot-nyedot kemaluannya lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme duluan sampai dua atau tiga kali sebelum saya memasukkan penis saya kedalam liang peranakannya, dan setelah saya pompa hanya beberapa kali saja maka saya seringkali langsung menyemprotkan mani saya kedalam vaginanya. Barulah untuk ronde kedua saya bisa menahan lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Ayu bisa menyusul dengan orgasmenya sehingga saya bisa merasakan empot-empotan vaginanya yang seakan-akan menyedot penis saya lebih dalam kedalam sorga dunia.

Ayu juga sangat doyan mengemut-ngemut penis saya yang masih belum bertumbuh secara maksimum. Saya tidak disunat dan Ayu sangat sering menggoda saya dengan menertawakan "kulup" saya, dan setelah beberapa minggu Ayu kemudian berhasil menarik seluruh kulit kulup saya sehingga topi baja saya bisa muncul seluruhnya. Saya masih ingat bagaimana dia berusaha menarik-narik atau mengupas kulup saya sampai terasa sakit, lalu dia akan mengobatinya dengan mengemutnya dengan lembut sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia seperti memperolah permainan baru dengan mempermainkan lidahnya disekeliling leher penis saya sampai saya merasa begitu kegelian dan kadang-kadang sampai saya tidak kuat menahannya dan mani saya tumpah dan muncrat ke hidung dan matanya.

Kadang-kadang Ayu juga minta "main" walaupun dia sedang mens. Walaupun dia berusaha mencuci vaginanya lebih dulu, saya tidak pernah mau mencium vaginanya karena saya perhatikan bau-nya tidak menyenangkan. Paling-paling saya hanya memasukkan penis saja kedalam vaginanya yang terasa banjir dan becek karena darah mensnya. Terus terang, saya tidak begitu menikmatinya dan biasanya saya cepat sekali ejakulasi. Apabila saya mencabut kemaluan saya dari vagina Ayu, saya bisa melihat cairan darah mensnya yang bercampur dengan mani saya. Kadang-kadang saya merasa jijik melihatnya.

Satu hari, kami sedang asyik-asyiknya menikmati sanggama, dimana kami berdua sedang telanjang bugil dan Ayu sedang berada didalam posisi diatas menunggangi saya. Dia menaruh tiga buah bantal untuk menopang kepala saya sehingga saya bisa mengisap-isap payudaranya sementara dia menggilas kemaluan saya dengan dengan kemaluannya. Pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur. Kami rileks saja karena sudah begitu seringnya kami bersanggama. Dan pasangan suami isteri yang tadinya menyewa kamar dikamar sebelah, sudah pindah kerumah kontrakan mereka yang baru.

Saya sudah ejakulasi sekali dan air mani saya sudah bercampur dengan jus dari kemaluannya yang selalu membanjir. Lalu tiba-tiba, pada saat dia mengalami klimaks dan dia mengerang-erang sambil menekan saya dengan pinggulnya, anak perempuannya yang bernama Efi ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya dan berkata, "Ibu main kancitan, iya..?" (kancitan = ngentot, bahasa Palembang)

Saya sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi karena sedang dipuncak klimaksnya, Ayu diam saja terlentang diatas tubuh saya. Saya melirik dan melihat Efi datang mendekat ketempat tidur, matanya tertuju kebagian tubuh kami dimana penis saya sedang bersatu dengan dengan kemaluan ibunya. Lalu dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan mata melotot.

"Hayo, ibu main kancitan," katanya lagi.

Lalu pelan-pelan Ayu menggulingkan tubuhnya dan berbaring disamping saya tanpa berusaha menutupi kebugilannya. Saya mengambil satu bantal dan menutupi perut dan kemaluan saya .

"Efi, Efi. Kamu ngapain sih disini?" kata Ayu lemas.

"Efi pulang sekolah agak pagi dan Efi cari-cari Ibu dirumah, tahunya lagi kancitan sama Bang Johan," kata Efi tanpa melepaskan matanya dari arah kemaluan saya. Saya merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Ayu tenang-tenang saja.

"Efi juga mau kancitan," kata Efi tiba-tiba.

"E-eh, Efi masih kecil.." kata ibunya sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan dasternya.

"Efi mau kancitan, kalau nggak nanti Efi bilangin Abah."

"Jangan Efi, jangan bilangin Abah.., kata Ayu membujuk.

"Efi mau kancitan," Efi membandel. "Kalo nggak nanti Efi bilangin Abah.."

"Iya udah, diam. Sini, biar Johan ngancitin Efi." Ayu berkata.

Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya dengar. Jantung saya berdegup-degup seperti alu menumbuk. Saya sudah sering melihat Efi bermain-main di pekarangan rumahnya dan menurut saya dia hanyalah seorang anak yang masih begitu kecil. Dari mana dia mengerti tentang "main kancitan" segala?

Ayu mengambil bantal yang sedang menutupi kemaluan saya dan tangannya mengelus-ngelus penis saya yang masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.

"Sini, biar Efi lihat." Ayu mengupas kulit kulup saya untuk menunjukkan kepala penis saya kepada Efi. Efi datang mendekat dan tangannya ikut meremas-remas penis saya. Aduh maak, saya berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi saya diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.

Cerita Hot - Tempat tidur saya cukup besar dan Ayu kemudian menyutuh Efi untuk membuka baju sekolahnya dan telentang di tempat tidur didekat saya. Saya duduk dikasur dan melihat tubuh Efi yang masih begitu remaja. Payudaranya masih belum berbentuk, hampir rata tetapi sudah agak membenjol. Putingnya masih belum keluar, malahan sepertinya masuk kedalam. Ayu kemudian merosot celana dalam Efi dan saya melihat kemaluan Efi yang sangat mulus, seperti kemaluan ibunya. Belum ada bibir luar, hanya garis lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya melihat itilnya yang seperti mengintip dari sela-sela garis kemaluannya. Efi merapatkan pahanya dan matanya menatap kearah ibunya seperti menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Saya mengelus-elus bukit venus Efi yang agak menggembung lalu saya coba merenggangkan pahanya. Dengan agak enggan, Efi menurut, dan saya berlutut di antara kedua pahanya dan membungkuk untuk mencium selangkangan Efi.

"Ibu, Efi malu ah.." kata Efi sambil berusaha menutup kemaluannya dengan kedua tangannya.

"Ayo, Efi mau kancitan, ndak?" kata Ayu.

Saya mengendus kemaluan Efi dan baunya sangat tajam.

"Uh, mambu pesing." Saya berkata dengan agak jijik. Saya juga melihat adanya "keju" yang keputih-putihan diantara celah-celah bibir kemaluan Efi.

"Tunggu sebentar," kata Ayu yang lalu pergi keluar kamar tidur. Saya menunggu sambil mempermainkan bibir kemaluan Efi dengan jari-jari saya. Efi mulai membuka pahanya makin lebar.

Sebentar kemudian Ayu datang membawa satu baskom air dan satu handuk kecil. Dia pun mulai mencuci kemaluan Efi dengan handuk kecil itu dan saya perhatikan kemaluan Efi mulai memerah karena digosok-gosok Ayu dengan handuk tadi. Setelah selesai, saya kembali membongkok untuk mencium kemaluan Efi. Baunya tidak lagi setajam sebelumnya dan sayapun menghirup aroma kemaluan Efi yang hanya berbau amis sedikit saja. Saya mulai membuka celah-celah kemaluannya dengan menggunakan lidah saya dan Efi-pun merenggangkan pahanya semakin lebar. Saya sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluannya dengan sangat jelas. Bagian samping kemaluan Efi kelihatan sangat lembut ketika saya membuka belahan bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah bagian dalamnya yang sangat merah.

Saya isap-isap kemaluannya dan terasa agak asin dan ketika saya mempermainkan kelentitnya dengan ujung lidah saya, Efi menggeliat-geliat sambil mengerang, "Ibu, aduuh geli, ibuu.., geli nian ibuu.."

Saya kemudian bangkit dan mengarahkan kepala penis saya kearah belahan bibir kemaluan Efi dan tanpa melihat kemana masuknya, saya dorong pelan-pelan.

"Aduh, sakit bu..," Efi hampir menjerit.

"Johan, pelan-pelan masuknya." Kata Ayu sambil mengelus-elus bukit Efi.

Saya coba lagi mendorong, dan Efi menggigit bibirnya kesakitan.

"Sakit, ibu."

Ayu bangkit kembali dan berkata,"Johan tunggu sebentar," lalu dia pergi keluar dari kamar.

Saya tidak tahu kemana Ayu perginya dan sambil menunggu dia kembali sayapun berlutut didepan kemaluan Efi dan sambil memegang batang penis, saya mempermainkan kepalanya di clitoris Efi. Efi memegang kedua tangan saya erat-erat dengan kedua tangannya dan saya mulai lagi mendorong.

Cerita Panas - Saya merasa kepala penis saya sudah mulai masuk tetapi rasanya sangat sempit. Saya sudah begitu terbiasa dengan lobang kemaluan Ayu yang longgar dan penis saya tidak pernah merasa kesulitan untuk masuk dengan mudah. Tetapi liang vagina Efi yang masih kecil itu terasa sangat ketat. Tiba-tiba Efi mendorong tubuh saya mundur sambil berteriak, "Aduuh..!" Rupanya tanpa saya sadari, saya sudah mendorong lebih dalam lagi dan Efi masih tetap kesakitan.

Sebentar lagi Ayu datang dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi minyak kelapa. Dia mengolesi kepala penis saya dengan minyak itu dan kemudian dia juga melumasi kemaluan Efi. Kemudian dia memegang batang kemaluan saya dan menuntunnya pelan-pelan untuk memasuki liang vagina Efi. Terasa licin memang dan saya-pun bisa masuk sedikit demi sedikit. Efi meremas tangan saya sambil menggigit bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, saya tidak tahu pasti.

Saya melihat Efi menitikkan air mata tetapi saya meneruskan memasukkan batang penis saya pelan-pelan.

"Cabut dulu," kata Ayu tiba-tiba.

Saya menarik penis saya keluar dari lobang kemaluan Efi. Saya bisa melihat lobangnya yang kecil dan merah seperti menganga. Ayu kembali melumasi penis saya dan kemaluan Efi dengan minyak kelapa, lalu menuntun penis saya lagi untuk masuk kedalam lobang Efi yang sedang menunggu. Saya dorong lagi dengan hati-hati, sampai semuanya terbenam didalam Efi. Aduh nikmatnya, karena lobang Efi betul-betul sangat hangat dan ketat, dan saya tidak bisa menahannya lalu saya tekan dalam-dalam dan air manikupun tumpah didalam liang kemaluan Efi. Efi yang masih kecil. Saya juga sebetulnya masih dibawah umur, tetapi pada saat itu kami berdua sedang merasakan bersanggama dengan disaksikan Ayu, ibunya sendiri.

Efi belum tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan bersanggama dengan baik, dan dia diam saja menerima tumpahan air mani saya. Saya juga tidak melihat reaksi dari Efi yang menunjukkan apakah dia menikmatinya atau tidak. Saya merebahkan tubuh saya diatas tubuh Efi yang masih kurus dan kecil itu. Dia diam saja.

Setelah beberapa menit, saya berguling kesamping dan merebahkan diri disamping Efi. Saya merasa sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Ayu sudah terangsang lagi setelah melihat saya menyetubuhi anaknya. Diapun menaiki wajah saya dan mendudukinya dan menggilingnya dengan vaginanya yang basah, dan didalam kami di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap penis saya yang sudah mulai lemas sehingga penis saya itu mulai menegang kembali.

Wajah saya begitu dekat dengan anusnya dan saya bisa mencium sedikit bau anus yang baru cebok dan entah kenapa itu membuat saya sangat bergairah. Nafsu kami memang begitu menggebu-gebu, dan saya sedot dan jilat kemaluan Ayu sepuas-puasnya, sementara Efi menonton kami berdua tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saya sudah mengenal kebiasaan Ayu dimana dia sering kentut kalau betul-betul sedang klimaks berat, dan saat itupun Ayu kentut beberapa kali diatas wajah saya. Saya sempat melihat lobang anusnya ber-getar ketika dia kentut, dan sayapun melepaskan semburan air mani saya yang ketiga kalinya hari itu didalam mulut Ayu. "Alangkah lemaknyoo..!" saya berteriak dalam hati.

"Ugh, ibu kentut," kata Efi tetapi Ayu hanya bisa mengeluarkan suara seperti seseorang yang sedang dicekik lehernya.

Hanya sekali itu saja saya pernah menyetubuhi Efi. Ternyata dia masih belum cukup dewasa untuk mengetahui nikmatnya bersanggama. Dia masih anak kecil, dan pikirannya sebetulnya belum sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan Ayu terus menikmati indahnya permainan bersanggama sampai dua atau tiga kali seminggu. Saya masih ingat bagaimana saya selalu merasa sangat lapar setelah setiap kali kami selesai bersanggama. Tadinya saya belum mengerti bahwa tubuh saya menuntut banyak gizi untuk menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk melayani Ayu, tetapi saya selalu saya merasa ingin makan telur banyak-banyak. Saya sangat beruntung karena kami kebetulan memelihara beberapa puluh ekor ayam, dan setiap pagi saya selalu menenggak 4 sampai 6 butir telur mentah. Saya juga memperhatikan dalam tempo setahun itu penis saya menjadi semakin besar dan bulu jembut saya mulai menjadi agak kasar. Saya tidak tahu apakah penis saya cukup besar dibandingkan suami Ayu ataupun lelaki lain. Yang saya tahu adalah bahwa saya sangat puas, dan kelihatannya Ayu juga cukup puas.

Saya tidak merasa seperti seorang yang bejat moral. Saya tidak pernah melacur dan ketika saya masih kawin dengan isteri saya yang orang bule, walaupun perkawinan kami itu berakhir dengan perceraian, saya tidak pernah menyeleweng. Tetapi saya akan selalu berterima kasih kepada Ayu (entah dimana dia sekarang) yang telah memberikan saya kenikmatan didalam umur yang sangat dini, dan pelajaran yang sangat berharga didalam bagaimana melayani seorang perempuan, terlepas dari apakah itu salah atau tidak.

siwoksintol.com 13 Jun, 2012


-
Source: http://www.siwoksintol.com/2012/06/cerita-dewasa-bercinta-dengan-ibu-dan.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
»»  read more

Selasa, 12 Juni 2012

Kisah Mulia Seorang Pelacur Tuna Rungu Yang Cantik

Kisah Mulia Seorang Pelacur Tuna Rungu Yang Cantik - Tulisan ini seyogianya bisa dijadikan bahan renungan, bahwa betapa miris dan runtuhnya sendi-sendi kehidupan (moral) bangsa ini. Bagaimana tidak, Anti (nama samaran) seorang wanita muda berkulit putih bersih yang cantik, yang lebih memilukan lagi dia tuna rungu, terpaksa melacur karena tidak ada pekerjaan lain.
 
Kematian neneknya amat memukul batinnya

Cerita ini dibuat berdasarkan wawancara dengannya, berawal dari pertemuan di halte sebuah jembatan penyeberangan busway di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat tempat dia mangkal di suatu malam pada 4 Juni 2012.


Cerita mengenai kehidupannya didapat dengan berpura-pura "check-in" di sebuah hotel kecil di kawasan Menteng. Dan ia membeberkan kisahnya melalui media ponsel.


Anti saat ini berumur 22 tahun. Dia adalah anak seorang saudagar kelontong di sebuah kota di Pantura Jawa Barat. Secara ekonomi sebenarnya dia tidak berkekurangan karena orang tuanya kaya. Namun karena dia terlahir sebagai tuna rungu, dia sejak kecil hingga berusia 18 tahun dititipkan kepada neneknya. Walaupun dia tuna rungu, dia bisa mengecap pendidikan SMA di sekolah umum dan lulus dengan nilai yang memuaskan beberapa tahun lalu dan sempat mengenyam kuliah di perguruan tinggi swasta ternama di kota B.

Selalu berhasil berdalih terhadap orang tuanya

Lalu mengapa ia sampai menjadi perempuan malam yang menjajakan dirinya? Semuanya karena salah pacarnya yang menghamili dia dan tidak bertanggung jawab. sebagai anak seorang saudagar kaya, tuna rungu pula hal ini adalah aib yang amat berat apabila diketahui oleh keluarga dan orang sekampung. Oleh karena itu dia tidak melaporkan kasus ini ke Polisi. Hanya neneknya saja yang tahu.


Gara-gara hamil diluar nikah, kuliahnya terpaksa drop out karena malu. Dan dalam kesunyian hidupnya, dia hanya mengandalkan uang kiriman dari orang tuanya dan selalu berdalih sibuk bekerja dan magang di Jakarta apabila orang tuanya menanyakan mengapa dia tidak pulang.


Ia melahirkan bayinya di sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak dengan ditemani neneknya. Namun seminggu setelah kelahiran bayinya, neneknya meninggal dunia. Kematian neneknya amat memukul batinnya. Ia bagai kehilangan pegangan dan tempat berlindung. Hidupnya benar-benar seperti simalakama. Mau pulang dia malu. selain takut ditanya ini-itu, dia pun merasa tidak tega meninggalkan bayinya.


Hingga saat ini, apabila keluarganya menanyakan kabarnya dia selalu menjawab "baik-baik saja". Rahasianya saat ini belum terbongkar karena ia pernah berdalih, kepada orang tuanya bahwa sebelum lulus dia sudah ditawari pekerjaan di sebuah kantor di Jakarta jadi karena sudah enak dan terjamin dia tidak melanjutkan kuliahnya. Sebuah alasan yang cerdik.


Saat ini, anaknya sudah berusia 4 tahun. Ia menunjukkan foto anaknya yang dia simpan di dompetnya. Seorang anak perempuan yang manis. Orang tuanya tidak pernah bertemu dengan "cucunya", karena ia selalu sukses "mengungsikan" anaknya bersama babysitternya apabila orangtuanya datang berkunjung.


Sebenarnya, saat ini seharusnya dia tidak melakukan pekerjaan "kotor" ini karena dia sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki asal Hongkong yang dikenalnya di sebuah tempat hiburan malam. Namun karena kekasihnya ini tidak rutin mengirimkan uang (setiap kali kirim sebesar US$ 700 per bulan) maka dia terpaksa bekerja begini.


Saat ditanyakan kenapa tidak belerja di kafe atau bar saja? Jawabnya, "Tidak bisa, sering ada razia dan teman-teman iri kepada saya (karena saya cantik". Ya, Anti memang cantik walau penampilannya sederhana. "Saya tidak suka tampil berlebihan, mas. Saya lebih suka sederhana". Benar sekali menurut saya. Bagi saya perempuan yang penampilannya sederhana tanpa polesan sana-sini justru malah terlihat aura kecantikan aslinya.


Mengenai pernikahan dia tidak tahu bagaimana nantinya, "Kagak tahu. Jalani saja apa adanya karena saya trauma dengan (komitmen) laki-laki". Dan laki-laki Hongkong yang menjadi pacarnya ini, dia mengaku tidak bisa memegang komitmen laki-laki tersebut. "Kalau mas bilang saya matre, terserah mas. Yang penting saya tidak pernah meminta uang ke dia".

Ingin berhenti sebelum berumur 25 tahun

Tidak terasa sejam berlalu, "Mas waktunya sudah habis". Ya benar sekali. Sudah satu jam! Dia bersedia untuk difoto asalkan identitasnya disamarkan. "Yakin mas tidak mau main?". Saya jawab tidak usah karena saya bukan laki-laki hidung belang. Dia berterima kasih seraya mengatakan bahwa saya ini adalah satu-satunya tamu yang sopan dan amat menghargai dirinya. Dan dia pun mengembalikan "tarifnya" yang sebenarnya sudah cukup murah sebesar 25% ke saya.


Seraya merapikan pakaiannya dicermin, dia mengetik di HP nya dan menyodorkannya ke saya : "Saya tidak ingin terus-terusan seperti ini. Suatu saat saya pasti akan berhenti sebelum saya berumur 25 tahun".


Kenapa tidak sekarang saja? "Saya sedang mengumpulkan modal usaha".


Salut dengan Anti yang tuna rungu ini, bagaimanapun juga sejelek-jeleknya kita memandangnya ternyata dia mempunyai kemauan untuk bertobat. Tidak seperti para wanita lain sejenis ini yang karena "serba enak" mereka keterusan dan susah untuk berhenti dari dunia ini.


"Mas, saya tahu pasti mas memandang rendah saya. Tidak apa-apa mas. Doakan saya. Maaf saya tidak bisa memberitahu nomor HP saya. Terima kasih, mas. Sukses untuk mas. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik". Demikian tulisnya di layar ponsel androidnya sesaat sebelum saya pulang.


Saya suka kalimat terakhirnya, "Semoga di lain waktu kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik". Ini menunjukkan dia amat cerdas dan memang berniat untuk bertobat.


Semoga kisah Anti bisa menginspirasikan "teman-temannya" untuk bertobat.


Doaku bersamamu, Anti, dimanapun kamu berada sekarang.

siwoksintol.com 13 Jun, 2012


-
Source: http://www.siwoksintol.com/2012/06/kisah-mulia-seorang-pelacur-tuna-rungu.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
»»  read more

Waw, Madona Pamer Payudara Saat Konser di Istanbul Turki

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.
»»  read more

Sila Sahin, Cewek Muslim Pertama Yang Tampil Bugil di Playboy

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.
»»  read more

ADS



SUPPORTS

SPONSOR

STATISTIC

 

Copyright © 2009 by Bola80

Template by Blogger Templates | Powered by Blogger